Jurnal Perjalanan ke Taman Mini Indonesia Indah

Pada hari Sabtu, 8 Febuari 2020. Saya bersama kelompok saya yang beranggotakan Ai hamidah, Endah Sari, Nayla Ayu, Najwa Suci, dan Rika Amelia melakukan kunjungan ke TMII untuk melakukan wawancara tentang anjungan Sumatra Barat, anjungan DKI Jakarta, dan Museum Keprajuritan Indonesia.

Pukul 09.00 saya dan beberapa anggota kelompok saya berangkat bersama sama menggunakan mobil online dan sebagian anggota kelompok saya pergi menggunakan TransJakarta. Pukul 10.00 saya sampai di TMII, masuk TMII dikenakan harga 20.000 ribu untuk satu orangnya, lalu saya dan teman teman saya masuk kedalam TMII untuk menemui teman saya yang sudah lebih dulu datang.

Setelah bertemu dengan temen kami yang didalam, akhirnya kami memutuskan untuk istirahat dulu di semacam seperti gazebo sebentar sebelum melanjutkan perjalanan untuk mencari anjungan dan Museum yang ditugaskan. Setelah istirahat, ketika kami ingin melanjutkan perjalanan kami, kami ditawarkan dengan bapak bapak untuk menyewa sepeda kembar 3 saja dengan harga 30.000 ribu, akhirnya tanpa pikir panjang kami pun menyewa 2 sepeda karena anggota kami beranggotakan 6 orang.

Akhirnya kami mengambil sepeda ditempat penyewaan sepeda. Karena bingung akan pergi ke anjungan mana saja, akhirnya kelompok saya hanya mengelilingi TMII dan kembali lagi ketempat awal kita bertemu. Akhirnya kami mengkonfirmasikan kembali kepada guru kami kelompok kita akan datang ke anjungan mana saja. Ternyata kelompok saya pergi ke anjungan Sumatra Barat dan DKI Jakarta. Setelah melihat peta TMII kami memutuskan untuk pergi ke anjungan Sumatra Barat terlebih dahulu

Ketika sudah sampai di anjungan Sumatra Barat, kami memutuskan untuk tidak langsung masuk karena kami sangat kelelahan, akhirnya kami duduk dan membeli air dingin untuk diminum bersama. Setelah selesai minum, kami memutuskan untuk masuk ke dalam anjungan Sumatra Barat dan meminta izin kepada pengelola anjungan tersebut untuk kami mendokumentasikan dan mewawancarainya tetapi pihak pengelola tersebut bilang bahwa mereka tidak menerima untuk diwawancarai ketika hari Sabtu, jadi mereka hanya memberikan kepada kami buku lengkap tentang sejarah apa saja yang ada didalam anjungan Sumatra Barat.

Anjungan Sumatra Barat ini memiliki sembilan ruang yang ditandai oleh jajaran tiang di tengahnya sebagai tanda pembatas karena tidak memiliki bilik. Rumah ini difungsikan sebagai ruang peragaan dan pameran. Benda-benda yang dipamerkan berupa pelaminan, barang hasil kerajinan, alat pertanian, alat musik tradisional di antaranya talempong, genta, kain tenun Silungkang, serta pakaian adat tiap kabupaten yang disajikan dengan peraga manekin. Kolong rumah digunakan untuk penjualan berbagai cenderamata hasil kerajinan tangan, antara lain kain songket Silungkang, pernik-pernik, lukisan, dan aneka busana jadi.

Pada pukul 11.40 kami mengambil sepeda untuk melanjutkan perjalanan mencari anjungan DKI Jakarta, tetapi sudah lama sekali kami tidak menemukannya, dan akhirnya kami behenti sebentar untuk beristirahat, setelah sudah beristirahat kami langsung melanjutkan perjalanan kamu untuk mencari lagi anjungan tersebut, dan akhirnya pun kami menemukan anjungan DKI Jakarta, langsung saja kami masuk dan mengisi buku tamu, lalu kami meminta izin untuk mewawancarai pengelola tersebut dan akhirnya kami di izinkan mewawancarainya, Di sana kami di jelaskan secara detail tentang isi anjungan DKI Jakarta dan kami di beri brosur, peta, dan stiker, tidak lupa kami berfoto bersama dan langsung di cetak di sana.

Anjungan DKI didirikan di kompleks Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur. Diresmikan pada tanggal 21 Agustus 1974 oleh Bapak Ali Sadikin mantan Gubernur DKI Jakarta, Anjungan ini menempati wilayah seluas 6.800 meter. Dengan didirikannya gedung Anjungan DKI Jakarta di Taman Mini Indonesia Indah ini, diharapkan masyarakat mendapatkan suatu sarana informasi yang lengkap mengenai perkembangan budaya Betawi dan kota DKI Jakarta. Informasi yang dihadirkan sendiri meliputi tahapan pengembangan serta pembangunan kota, bentuk pemerintahan, serta keadaan masyarakat yang tinggal di DKI Jakarta semenjak zaman Kerajaan Pajajaran, zaman Kolonial Belanda, sampai kepada zaman kemerdekaan di akhir abad ke-20.

Pada pukul 12.40 Setelah dari anjungan DKI Jakarta kami merasa lelah dan lapar, jadi kami memutuskan berhenti terlebih dahulu di suatu tempat untuk makan, sebelum makan kami membeli minum di warung yang berada di sana, karena kelompok kami tidak semua membawa bekal jadi kami makan bersama sama.

Setelah 30 menit kami beristirahat, kami melanjutkan perjalanan untuk mencari museum keprajuritan Indonesia. Awalnya kami kira museum tersebut tutup tenyata kami salah pintu masuk, setelah kami menemukan pintu masuk yang sebenarnya kami langsung membeli tiket seharga 2.500 perorang, lalu kami masuk ke museum tersebut untuk mencari tahu sejarah dan jadwal buka – tutup museum tersebut, setelah dari sana kami langsung keluar dan menghampiri sang pengelola untuk di wawancarai.

Museum Keprajuritan Indonesia adalah bangunan berbentuk segi lima dikelilingi air laksana sebuah benteng pertahanan. Perairan sekeliling benteng ini menggambarkan Negara kepulauan dengan doktrin Wawasan Nusantara. Museum ini dibangun diatas lahan 4,5 ha dengan luas bangunan 7.545 m2 dan diresmikan pada tanggal 5 Juli 1987 oleh Presiden Soeharto.

Setelah selesai mewawancari kami langsung mengembalikan sepeda yang tadi kami sewa, ternyata kami telat 2 jam mengembalikannya, karena kami tidak tahu bahwa menyewa sepeda tersebut 30.000 perjam. Lalu kami meminta maaf kepada orang yang menyewakan sepeda tersebut lalu kami di beri keringanan untuk membayar setengahnya saja. Setelah itu kami langsung menuju luar taman mini untuk memesan angkutan online, setelah beberapa lama kami menunggu akhirnya angkutan tersebut datang tanpa berfikir panjang kami langsung naik. Setelah satu jam kami di dalam mobil dan akhirnya saya sampai juga di rumah.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai